Mengenai Saya

Senin, 21 Juni 2010

PERKEMBANGAN IDENTITAS

pengertian identitas diri

Identitas diri adalah pengorganisasian atau pengaturan dorongan-dorongan, kemampuan-kemampuan dan keyakinan-keyakinan ke dalam citra diri secara konsisten yang meliputi kemampuan memilih dan mengambil keputusan baik menyangkut pekerjaan, orientasi seksual dan filsafat hidup (Marcia dalam Yusuf, 2000).

teori perkembangan identitas Ericson memiliki 4 status identitas, antara lain:


1. Identity diffusion dimana individu belum mengalami krisis ndan belum membuat komitmen.

2. Identity foreclosure dimana individu yang sudah membuat komitmen, tetapi belum mengalami krisis.


3. Identity moratorium dimana individu yang tengah berada pada masa krisis tetapi belum memiliki komitmen.


4. Identity achievement dimana individu yang sudah melalui krisis dan sudah sampai pada sebuah komitmen.


Konteks sosial memiliki peran yang penting dalam identitas karena konteks sosial dipengaruhi oleh peran keluarga, budaya dan etnis, serta gender terhadap perkembangan identitas.


menurut (Dariyo 2004) ada 9 karakteristik yang diharapka dalam sebuah identitas diri

1.Konsep Diri: Gambaran diri tentang aspek fisiologis maupun psikologis yang berpengaruh pada perilaku individu dalam penyesuaian diri dengan orang lain.

2. Ealiuasi diri: Penerimaan terhadap kekurangan yang ada pada diri individu, berarti ia memiliki kemampuan untuk menilai dan mengevaluasi potensi dirinya sendiri

3. harga diri: Sejauh mana individu dapat menghargai diri sebagai seorang pribadi yang memiliki kemandirian, kemauan, kehendak, dan kebebasan dalam menentukan perilaku dalam hidupnya.

4. Efikasi Diri: Kemampuan untuk menyadari, menerima dan mempertanggungjawabkan semua potensi, ketrampilan atau keahlian secara tepat.

5. Kepercayaan Diri: Keyakinan terhadap diri sendiri bahwa ia memiliki kemampuan dan kelemahan, dan dengan kemampuan tersebut ia merasa optimis dan yakin akan mampu menghadapi masalahnya dengan baik.

6. Tanggung Jawab: Rasa tanggung jawab terhadap apa yang menjadi hak dan kewajibannya.

7. Komitmen : Tekad atau dorongan internal yang kuat untuk melaksanakan suatu janji, ketepatan hati yang telah disepakati sebelumnya, sampai benar-benar selesai dengan baik.

8. Ketekunan : Adanya etos kerja yang pantang menyerah sebelum segala sesuatunya selesai. Ketekunan tidak mengenal putus asa, dalam arti bahwa apa yang dilakukannya selalu berorientasi ke masa depan.

9. Kemandirian : Sifat yang tidak bergantung pada orang lain. Individu akan berusaha menyelesaikan masalah dalam hidupnya sendiri. Semua karakteritik tersebut tidak dapat dipisah-pisah antara satu dengan yang lainnya


*Pada Masa Kanak-Kanak pertenganhan dan Akhir. Evaluasi diri anak menjadi lebih kompleks selama masa kanak-kanak madya dan akhir. 5 perubahan penting yang menjadi karakteristik bertambahnya kompleksitas ini adalah:


1. Karakteristik Internal. Pada masa kanak-kanak madya dan akhir, anak mulai beralih menggunakan karakteristik internal dalam mendefinisikan dari mereka. Mereka mulai menyadari adanya perbedaan keadaan di dalam dan di luar, dan mereka juga akan lebih mungkin dibandingkan anak yang lebih kecil memasukkan keadaan diri yang subyektif ke dalam definisi mereka tentang diri. Seperti contoh anak berumur 7 tahun akan mengatakan ”aku cukup pintar dari mereka” dan anak yang berumur 10 tahun akan berkata ”aku tidak akan merasa takut dan khawatir lagi, dulu aku sering merasa cemas”.

2. Deskripsi sosial. Pada masa ini anak mulai memasukkan aspek sosial, seperti kelompok sosial tertentu, dalam gambaran diri mereka (Harter dkk dalam Santrock, 2007). Contohnya seperti, anak lebih suka mendeskripsikan diri mereka menjadi anggota Pramuka.

3. Perbandingan sosial. Pada karakteristik ini mencakup peningkatan referensi perbandingan sosial. Pada titik perkembangan ini, anak akan lebih mungkin membedakan diri mereka dari orang lain dengan menggunakan istilah yang komparatif dan tidak absolut. Contohnya, seorang anak mendeskripsikan apa yang bisa mereka lakukan dibandingkan anak lain.

4. Real self dan ideal self. Anak mulai dapat membedakan antar real self dan ideal self mereka yang mencakup kemampuan untuk membedakan kompetensi mereka yang sebenarnya dengan apa yang ingin mereka capai dan mereka anggap penting.

5. Realistik. Evaluasi diri anak pada tahap ini menjadi lebih realistis. Hal ini mungkin terjadi karena peningkatan perbandingan sosial dan pengambilan persepsi

Dalam pembentukan identitas sosial,pola asuh,teman sebaya, dan media dapat mempengaruhi perkembangan identitas anak.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar